JOBSHEET PRAKTIKUM AUDIT ENERGI MOTOR LISTRIK
|
|
|
|
MOTOR
LISTRIK
Nama Mahasiswa : Annisa Fitri Shaumi (151734003)
Fajar
Ramadhan (151734009)
Ilham
Nurofik (151734012)
Rahmat
Hidayat (151734018)
Rizki
Azka Fadhilah (151734025)
Kelompok : 1
Dosen Pengajar : Ir. Kholiq Hernawan, M.T
PROGRAM STUDI DIV
TEKNIK KONSERVASI ENERGI
JURUSAN TEKNIK KONVERSI ENERGI
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2018
AUDIT ENERGI MOTOR LISTRIK
1. TUJUAN
Setelah
melakukan kegiatan praktikum mahasiswa diharapkan mampu :
1.
Melakukan audit
energi pada motor listrik sebagai penggerak kompresor.
2.
Memahami pinsip dan
mekanisme kerja motor
sebagai penggerak kompresor.
3.
Mengetahui
parameter-parameter yang berpengaruh pada
motor sebagai penggerak kompresor.
4.
Menghitung rugi-rugi
pada motor listrik sebagai
penggerak kompresor.
5.
Menghitung
efisiensi motor listrik sebagai penggerak kompresor.
6.
Membandingkan
baseline hasil percobaan dengan standard.
2. TEORI
2.1. Penggunaan
Alat Ukur Percobaan
A. Cara menggunakan
PQ Analyzer
1. Siapkan
alat ukur PQ Analyzer dan cek kelengkapannya, seperti probe-probe dan SD Card
untuk penyimpanan data,
2. Pasangkan
SD Card pada PQ Analyzer,
3. Pasangkan
probe kabel adaptor pada PQ Analyzer,
4. Pasangkan
probe tegangan (V1, V2, V3, dan N) pada PQ Analyzer,
5. Pasangkan
probe arus (A1, A2, A3) pada PQ Analyzer,
6. Setelah
kelengkapan PQ Analyzer terpasang, siapkan panel listrik yang akan di ukur,
7. Pasangkan
penjepit buaya pada panel sesuai fasanya, misalnya pada kabel fasa R dari PQ
Analyzer maka pasangkan penjepit buaya ke panel fasa R,
8. Pasangkan
clamp arus pada kabel panel sesuai fasanya, misalnya pada kabel fasa R dari PQ
Analyzer maka pasangkan clamp ke kabel panel fasa R,
9. Hubungkan
kabel adaptor PQ Analyzer ke sumber listrik,
10. ON-kan
PQ Analyzer,
11.
Tekan Set,
(Shift dan atau
) untuk mengatur folder
penyimpanan, nama file, sampling data, perbandingan pengukuran, tanggal, dan
waktu,
12. Setelah
selesai setting profil data, tekan exit untuk
menampilkan display utama PQ Analyzer,
13. Apabila
sudah siap melakukan pengukuran maka tekan Rec
untuk melakukan perekaman data,
14. Setelah
data terkumpul sesuai yang kita setting selanjutnya tekan Rec untuk menghentikan perekaman,
15. Pengukuran
selesai, OFF kan PQ Analyzer,
16. Lepaskan
Clamp arus yang terpasang pada kabel panel,
17. Lepaskan
penjepit buaya yang terpasang pada panel,
18. Lepaskan
SD Card dari PQ Analyzer untuk dilakukan pemindahan data pada Laptop/komputer,
19. Rapihkan
PQ Analyzer dan kelengkapannya.
B. Cara
menggunakan Clamp On 3 Fasa HiTester 3286 – 20 HIOKI
1.
Siapkan alat ukur clamp on 3 fasa dan kelengkapannya,
2.
Pasangkan probe tegangan pada clamp on 3 fasa sesuai urutas fasa R, S, dan T,
3.
Siapkan panel yang akan diukur,
4.
Pasangkan capit buaya pada panel sesuai dengan urutan fasanya,
5.
Pasangkan Clamp pada kabel panel yang akan di ukur,
6.
ON kan Clamp on 3 fasa,
7.
Mulai pengukuran sesuai parameter yang akan dicari,
8.
Catat hasil pengukuran,
9.
Setelah selesai OFF kan Clamp On 3 fasa,
10.
Lepaskan Clamp dari kabel panel,
11.
Lepaskan Penjepit buaya dari panel,
12.
Rapihkan alat-alat dan bereskan.
2.2.
Klasifikasi Motor
Gambar 1.KlasifikasiJenisMotor Listrik
Gambar 1 menjelaskan tentang jenis
dari motor listrik. Motor listrik yang banyak digunakan di industry yaitu motor
induksi.
2.3. Motor induksi 3 fasa
Pada percobaan kompresor ini motor penggeraknya
berupa motor induksi 3 fasa dimana motor listrik 3 fasa adalah motor yang bekerja dengan memanfaatkan
perbedaan fasa pada sumber untuk menimbulkan gaya putar pada bagian rotornya.
Perbedaan fasa pada motor 3 phase didapat langsung dari sumber. Hal tersebut
yang menjadi pembeda antara motor 1 fasa dengan motor 3 fasa. Secara umum, motor 3 fasa memiliki dua bagian pokok, yakni stator
dan rotor. Bagian tersebut dipisahkan oleh celah udara yang sempit atau yang
biasa disebut dengan air gap. Jarak antara stator dan rotor yang terpisah oleh
air gap sekitar 0,4 milimeter sampai 4 milimeter.
2.3.1. Prinsip Kerja Motor Listrik 3 Fasa
Prinsip kerja dari motor listrik 3
fasa ini sebenarnya sangat sederhana. Bila sumber tegangan 3 fase dialirkan
pada kumparan stator, maka akan timbul medan putar dengan kecepatan tertentu.
Besarnya kecepatan tersebut dapat diukur menggunakan sebuah rumus:
Dimana: Ns = kecepatan putar stator
f
= frekwensi sumber,
P = kutub motor.
Perlu diketahui bahwa medan putar
stator akan memotong batang konduktor yang ada pada rotor, sehingga pada batang
konduktor dari rotor akan muncul GGL induksi. GGL akan menghasilkan arus (I)
serta gaya (F) pada rotor. Agar GGL induksi timbul, diperlukan perbedaan antara
kecepatan medan putar yang ada pada stator (ns) dengan kecepatan berputar yang
ada pada rotor (nr).Perbedaan kecepatan antara stator dan rotor disebut slip
(s) yang dapat dinyatakan dengan rumus:
Dimana : S = slip
Ns = Putaran stator
Nr = Putaran rotor
Apabila nr = ns, maka GGL induksi
tidak akan timbul, dan arus tidak akan mengalir pada batang konduktor (rotor),
dengan demikian tidak dihasilkan kopel. Berdasarkan cara kerja tersebut, motor
3 fasa juga dapat disebut sebagai motor tak serempak atau motor asinkron.
Daya yang masuk pada motor 3 phasa dapat di rumuskan :
Pada percobaan
daya input dapat dihitung apabila mengunakan metode pengukuran masing – masing
phasa menggunakan tang ampere sebagai berikut :
2.3.2. Rugi
- rugi motor induksi
Pada sebuah motor induksi terdapat beberapa rugi - rugi yang
ditimbulkan karena komponen - komponen yang
menyusun motor itu sendiri, seperti komponen tembag yang terdapat pada gulungan
stator dan rotor. Komponen - komponen tersebut akan menimbulkan rugi - rugi
seperti rugi - rugi tembaga , rugi - rugi pada inti besi , rugi - rugi mekanik
seperti hambatan yang ditimbulkan karena gesekan dan angin, rugi- rugi
dapat dihitung dengan rumus :
Dimana : Pcu
= Rugi rugi tembaga
I = arus yang mengalir pada tembaga
R = Resistansi tembaga
Untuk rugi - rugi pada inti besi, rugi - rugi tersebut tidak
terkait penuh dengan besar kecilnya beban yang diberikan pada motor tersebut.
Faktor yang mempengaruhi besarnya rugi - rugi pada inti besi adalah hysterisis
dan eddy current (arus eddy).
Sedangkan untuk rugi - rugi mekanik pada umumnya disebabkan
faktor mekanikal seperti hambatan dan gesekan, seperti pada bearing, udara dll.
Rumus rugi -rugi base praktis
Rugi – Rugi = [0.44 x L + 0.56 x L x (Pi/P)2] (kW)
dimana :
L =
P (1 - h) = Besarnya rugi-rugi motor pada
beban penuh (kW)
P =
Rating daya masukan motor (kW)
= Rating daya
keluaran/h
h =
Efisiensi motor pada beban penuh
Pi = Daya masukan motor (kW)
0.44 = Faktor rugi – rugi besi
0.56=
Faktor rugi –rugi tembaga
2.3.3. Efisiensi Motor Induksi
Efisiensi sebuah motor dinyatakan sebagai persentase
perbandingan antra daya output yang dapat diberikan oleh sebuah motor untuk
kerja (Pout) terhadap daya input (Pin) yang
dibutuhkan oleh motor tersebut dimana dirumuskan sebagai berikut :
Dimana :
= efisiensi motor
Pin = daya masukan motor
Pout = daya keluaran motor
Ptrugi = daya rugi-rugi total pada motor
Metode base praktis
2.3.4
Efisisensi motor
terhadap load faktor
Terdapat hubungan yang jelas antara efisiensi motor dan
beban. Pabrik motor membuat rancangan motor untuk beroperasi pada beban 50-100%
dan akan paling efisien pada beban 75%. Tetapi, jika beban turun dibawah 50%
efisiensi turun dengan cepat seperti ditunjukkan pada Gambar dibawah.
Mengoperasikan motor dibawah laju beban 50% memiliki dampak pada faktor
dayanya. Efisiensi motor yang tinggi dan faktor daya yang mendekati 1 sangat
diinginkan untuk operasi yang efisien dan untuk menjaga biaya rendah untuk seluruh
pabrik, berikut hubungan efisiensi dengan
perubahan beban :
2.3.5. Spesifikasi Motor Penggerak
Kompresor
Daya (kW)
|
Jumlah Kutub
|
||
7.5 kW
|
4 POLE
|
||
Tegangan
(v)
|
220
|
380
|
415
|
Frekuensi
(Hz)
|
50
|
50
|
50
|
Putaran
(RPM)
|
1440
|
1440
|
1440
|
Amp’s
|
26
|
15
|
15
|
Insulation
|
B
|
||
Amb
Temp (®C)
|
40
|
||
Form
|
KK
|
||
Motor yang di gunakan pada percobaan memiliki sebagai berikut :
Daya Output Motor = 7.5 KW
Jumlah kutub = 4 Kutub
Frekuensi kerja motor = 50 Hz
Putaran nominal motor = 1440 rpm
Tegangan nominal motor = 220 V atau 380 V,415 V sesuai
hubungannya
Arus nominal motor = 26 A atau 15 A sesuai
hubungannya
Isolasi yang digunakan type = B
Ambiens temperatur pada = 40oC
From = KK
2.3.6. Kelas
Isolasi
·
Pengertian
Insulation Class atau kelas isolasi
Keterangan mengenai Insulation Class atau kelas
Isolasi ini menjelaskan mengenai seberapa baik kemampuan isolasi yang digunakan
pada kawat gulungan (Winding) suatu elektro motor terhadap perubahan atau
kenaikan suhu atau panas. Atau dengan kata lain, Insulation Class atau kelas
isolasi adalah seberapa besar temperature atau suhu panas yang dapat di
toleransi oleh bahan isolasi kawat gulungan elektro motor tersebut. Sehingga
tetap dapat berfungsi sebagai bahan isolator (Isolasi) sebelum melebihi batas
tembus tegangan dan Mengalami kegagalan isolasi atau terjadi kebocoran arus
atau tegangan listrik.
·
Tabel
dan penjelasan mengenai Insulation Class A,B,F,H pada elektro motor
Tabel Kelas
Isolasi
·
Insulation
Class standard NEMA
Insulation Class atau kelas isolasi adalah
pengelompokan atau pembagian kelas untuk ketahanan kawat gulungan suatu electro
motor pada suhu / temperatur tertentu
Standar NEMA (The National Electrical Manufacture
Association ) membagi Insulation Class menjadi 4 yaitu:
A.
Insulation
Class A
B.
Insulation
Class B
C.
Insulation
Class F
D.
Insulation
Class H
Terdapat 3 hal yang harus kita perhatikan untuk
menentukan Insulation Class.
1. Ambient Temperature
Seperti yang kita ketahui bahwa saat elektro motor
belum dioperasikan, maka suhu motor tersebut adalah sama dengan suhu sekitarnya,
atau yang biasa disebut sebagai Suhu Ruangan (Ambient Temperature). NEMA
memberi nilai standar untuk suhu ruangan yang digunakan adalah 40 derajat
Celcius.
2. Rise Temperature
Kemudian, saat elektro motor tersebut dioperasikan,
maka akan terjadi peningkatan suhu pada kawat gulungan atau winding elektro
motor tersebut, hal ini disebut dengan Peningkatan Suhu (Rise Temperature).
3. Hot spot
Selain itu suatu margin dari titik ditengah lilitan
biasanya lebih tinggi yang disebut sebagai Hot Spot. Atau dengan kata lain Hot
spot adalah titik terpanas yang terdapat dalam gulungan Elektro motor.
Insulation class atau Kelas isolasi ini, menjadi
pedoman bagi kita untuk menentukan kelas mana yang akan kita gunakan,
disesuaikan dengan suhu atau temperatur maksimal saat suatu elektro motor
tersebut di operasikan.
Sebelum kita dapat menentukan antara Insulation Class
A, B, F atau Insulation Class H, yang akan kita gunakan, terlebih dahulu kita
harus mengetahui penjelasan mengenai masing-masing Insulation Class tersebut.
·
Insulation
Class
Seperti yang kita ketahui, insulation Class atau kelas
isolasi memiliki empat kelas yang umumnya digunakan, yaitu:
A.
Insulation
Class A
B.
Insulation
Class B
C.
Insulation
Class F
D.
Insulation
Class H
Sistem Isolasi dari Insulation Class ini diambil dari
standar nilai NEMA (National Electrical Manufacturers Association).
Klasifikasi Insulation Class ini diambil dari seberapa
besar batas maksimum temperatur atau suhu operasi yang masih ditoleransi atau
diperbolehkan.
A.
Insulation
Class A
Temperatur operasional maksimum yang diperbolehkan
untuk Insulation Class-A, adalah:
105 derajat Celcius.
Peningkatan temperatur yang diperbolehkan saat beban
puncak adalah:
60 derajat celcius. Pada service faktor 1.0
Peningkatan temperatur yang diperbolehkan saat beban
puncak adalah:
70 derajat celcius. Pada service faktor 1.15
Hot spot atau titik suhu terpanas bertambah sebesar 5
derajat celcius
B.
Insulation
Class B
Temperatur operasional maksimum yang diperbolehkan
untuk Insulation Class-B, adalah:
130 derajat Celcius.
Peningkatan temperatur yang diperbolehkan saat beban
puncak adalah:
80 derajat celcius.
Pada service faktor 1.0
Peningkatan temperatur yang diperbolehkan saat beban
puncak adalah:
90 derajat celcius. Pada service faktor 1.15
Hot spot atau titik suhu terpanas bertambah sebesar 10
derajat celcius.
C.
Insulation
Class F
Temperatur operasional maksimum yang diperbolehkan
untuk Insulation Class-F, adalah:
155 derajat Celcius.
Peningkatan temperatur yang diperbolehkan saat beban
puncak adalah:
105 derajat celcius. Pada service faktor 1.0
Peningkatan temperatur yang diperbolehkan saat beban
puncak adalah:
115 derajat celcius. Pada service faktor 1.15
Hot spot atau titik suhu terpanas bertambah sebesar 10
derajat celcius.
D.
Insulation
Class H
Temperatur operasional maksimum yang diperbolehkan
untuk Insulation Class-H, adalah: 180 derajat Celcius.
Peningkatan temperatur yang diperbolehkan saat beban
puncak adalah:
125 derajat celcius. Pada service faktor 1.0
Hot spot atau titik suhu terpanas bertambah sebesar 15
derajat celcius.
Penjelasan mengenai perhitungan suhu maksimum operasi
yang dapat ditoleransi, sesuai dengan Insulation Class masing-masing
A.
Insulation
Class A
Temperature operasional maksimum yang diperbolehkan
didapat dari penjumlahan nilai suhu ambient (40 derajat celcius) ditambah
dengan rise temperature atau peningkatan temperatur yang diperbolehkan ditambah
lagi dengan titik terpanas atau Hot spot.
Sebagai contoh, perhitungan suhu maksimum untuk
Insulation Class A:
Temperatur maksimum yang diperbolehkan adalah 105
derajat celcius.
Nilai ini didapat dari:
Nilai suhu ambient (40 derajat celcius) ditambah
dengan rise temperature atau peningkatan temperatur yang diperbolehkan (60
derajat celcius) ditambah lagi dengan titik terpanas atau Hot spot (5 derajat
celcius)
Atau sama dengan:
40 derajat celcius + 60 derajat celcius + 5 derajat
celcius = 105 derajat celcius
B.
Insulation
Class B
Temperature operasional maksimum yang diperbolehkan
didapat dari penjumlahan nilai suhu ambient (40 derajat celcius) ditambah
dengan rise temperature atau peningkatan temperatur yang diperbolehkan ditambah
lagi dengan titik terpanas atau Hot spot.
Sebagai contoh, perhitungan suhu maksimum untuk
Insulation Class B:
Temperatur maksimum yang diperbolehkan adalah 130
derajat celcius.
Nilai ini didapat dari:
nilai suhu ambient (40 derajat celcius) ditambah
dengan rise temperature atau peningkatan temperatur yang diperbolehkan (80
derajat celcius) ditambah lagi dengan titik terpanas atau Hot spot (10 derajat
celcius)
Atau sama dengan:
40 derajat celcius+ 80 derajat celcius + 10 derajat
celcius = 130 derajat celcius.
C.
Insulation
Class F
Temperature operasional maksimum yang diperbolehkan
didapat dari penjumlahan nilai suhu ambient (40 derajat celcius) ditambah
dengan rise temperature atau peningkatan temperatur yang diperbolehkan ditambah
lagi dengan titik terpanas atau Hot spot.
Sebagai contoh, perhitungan suhu maksimum untuk
Insulation Class F:
Temperatur maksimum yang diperbolehkan adalah 155
derajat celcius.
Nilai ini didapat dari:
nilai suhu ambient (40 derajat celcius) ditambah
dengan rise temperature atau peningkatan temperatur yang diperbolehkan (105
derajat celcius) ditambah lagi dengan titik terpanas atau Hot spot (10 derajat
celcius)
Atau sama dengan:
40 derajat celcius+ 105 derajat celcius + 10 derajat
celcius = 155 derajat celcius.
D.
Insulation
Class H
Temperature operasional maksimum yang diperbolehkan
didapat dari penjumlahan nilai suhu ambient (40 derajat celcius) ditambah
dengan rise temperature atau peningkatan temperatur yang diperbolehkan ditambah
lagi dengan titik terpanas atau Hot spot.
Sebagai contoh, perhitungan suhu maksimum untuk
Insulation Class F:
Temperatur maksimum yang diperbolehkan adalah 180
derajat celcius.
Nilai ini didapat dari:
Nilai suhu ambient (40 derajat celcius) ditambah
dengan rise temperature atau peningkatan temperatur yang diperbolehkan (125
derajat celcius) ditambah lagi dengan titik terpanas atau Hot spot (15 derajat
celcius)
Atau sama dengan:
40 derajat celcius+ 125 derajat celcius + 15 derajat
celcius = 180 derajat celcius.
Sebaiknya suhu pengoperasian elekto motor tidak
melebihi batas maksimum suhu yang
derajat dari batasan suhu maksimum yang diperbolehkan, akan menurunkan
life time elektro motor tersebut. Hal ini merupakan hal yang sangat penting
untuk dihindari karena Insulation Class berhubungan lengsung terhadap Life time
Elektromotor.
Sebagai
contoh:
Jika elektro motor beroperasi pada suhu 180 derajat
celcius, maka:
Jika menggunakan Insulation Class A, life time elektro
motor tersebut hanya sekitar 300 jam operasi.
Jika menggunakan Insulation Class B, life time elektro
motor tersebut hanya sekitar 1.800 jam operasi.
Jika menggunakan Insulation Class F, life time elektro
motor tersebut sekitar 8.500 jam operasi.
Jika menggunakan Insulation Class H, life time elektro
motor tersebut dapat mencapai 10.000 jam operasi.
Catatan:
Insulation Class-B
Pada umumnya, Insulation Class B digunakan untuk
elektro motor produksi Amerika (US) dengan menggunakan frekwensi 60 Hertz
Insulation Class-F
Pada umumnya, Insulation Class F digunakan untuk
elektro motor produksi internasional dengan menggunakan frekwensi 50 Hertz.
3.
GAMBAR
RANGKAIAN
Saat Praktikum
Instalasi Power Supply ke Motor Induksi
RANGKAIAN
KONTROL RANGKAIAN
DAYA
Tambahan
gambar motor
|
TOLR
|
|
`
|
|
R
|
|
S
|
|
T
|
|
N
|
|
T
|
|
S
|
|
R
|
|
U
|
|
U
|
|
V
|
|
W
|
DOL
TOLR
: Thermal overload relay
4. ALAT DAN BAHAN
1.
Kompresor
2. Clamp On 3 fasa
3.
PQ Analyzer
4.
Alat Pengaman Diri (APD)
5.
PROSEDUR
PERCOBAAN
A. Pengukuran Motor Penggerak Kompresor
1. Siapkan peralatan yang diperlukan.
2. Pastikan sumber tegangan pada posisi OFF. (saklar off
pada panel utama kompresor)
3. Buka box panel kompresor.
4. Cek penghantar tiap-tiap fasa.
(apakah bisa dipasang clamp on atau tidak dan cek urutan fasa sudah benar atau
tidak)
5. Pasang
alat ukur clamp on pada instalasi listrik yang masuk ke motor
6. ON kan sumber tegangan
pada panel utama kompresor. Jangan
terlalu dekat dengan belt kompresor pada saat pengONan.
7. Atur tekanan pada kompresor mulai dari 1-5 bar dengan
kenaikan sebesar 1 bar.
8. Buat tekanan kompresor konstan pada saat pengukuran
dengan mengatur bukaan katup.
9. Pada
tekanan kompresor konstan (missal 1 bar/2 bar/ 3 bar / 4 bar dan 5 bar) Ukur parameter masuk pada
motor. Dan ukur parameter pada kompresor.
10. Parameter
yang diukur pada masukan motor yaitu :nilai
tegangan, arus, cos φ, daya aktif (Kw) dan daya semu (KVA). Besaran
besaran ini diukur per fasa (R/S/T)
11. Parameter
yang di ukur pada kompresor adalah suhu masuk(T1), tekanan udara masuk (P1)
kompresor, suhu keluar kompresor (T2) dan tekanan keluaran kompresor (P2)
12. Lakukan
langkah 10 dan 11 untuk tekanan kompresor yang berbeda (2 bar, 3 bar, 4 bar, 5
bar)
13. Rekam
hasil pengukuran pada PQ anayzer
14. OFF kan kompresor dengan meng OFFkan saklar pada panel
utama kompresor
15. Buang udara bertekanan pada kompresor.
16. Bereskan kembali peralatan
Tabel Data Pengamatan
Waktu
|
Vm (volt)
|
Im (ampere)
|
Cos phi
|
Pm (kW)
|
P (bar)
|
||||||||||||
R
|
S
|
T
|
3Fasa
|
R
|
S
|
T
|
3Fasa
|
R
|
S
|
T
|
3Fasa
|
R
|
S
|
T
|
3Fasa
|
||
4
|
|||||||||||||||||
5
|
|||||||||||||||||
6
|
|||||||||||||||||
7
|
|||||||||||||||||
6.
TUGAS
1.
Buat tabel dan grafik
karakteristik parameter (V,I,cos phi, P) yang terukur terhadap pembebanan
2.
Berdasarkan data,
hitunglah :
a.
Rugi-rugi motor
b.
Pout motor induksi
c.
η motor induksi
d.
konsumsi energi per
tahun (dalam kWh dan Rupiah) dengan asumsi penggunaan per hari 10 jam, 7 hari dalam seminggu, 4
minggu dalam sebulan, dan 12 bulan dalam satu tahun dengan biaya Rp 1.380/kWh
3. Buat
grafik rugi-rugi, konsumsi energi dan efisiensi (η) motor terhadap factor
pembebanan (tekanan)
LAMPIRAN
STANDAR
PARAMETER KELISTRIKAN
Kualitas
daya
|
Standar
|
Batas nilai
|
Fluktuasi daya aktif
listrik
|
SNI 57-2-1 2001
|
10%
|
Fluktuasi daya
reaktif listrik
|
SNI 57-2-1 2001
|
10%
|
Fluktuasi daya semu listrik
|
SNI 57-2-1 2001
|
10%
|
Faktor daya
|
Permen ESDM No. 30 th 2012
|
<0,85
|
Ketidakseimbangan
arus
|
ANSI-C84.1-1995
|
5%
|
Ketidakseimbangan
tegangan
|
EASA, hal. 6-11, 2000
|
3%
|
THD – I
|
IEEE Std 519
|
10%
|
THD – I
|
SNI 57-2-1 2001
|
10%
|
THD – V
|
IEEE Std 519-1992
|
5%
|
THD – V
|
SNI 57-2-1 2001
|
5%
|
Frekuensi
|
SNI 04-1992-2002
|
|
Tegangan
|
10%
|
|
Relatif
|
Comments
Post a Comment