JOBSHEET PRAKTIKUM AUDIT ENERGI MOTOR LISTRIK







           


 JOBSHEET PRAKTIKUM AUDIT ENERGI
MOTOR LISTRIK
Nama Mahasiswa       :     Annisa Fitri Shaumi    (151734003)
                                                            Fajar Ramadhan          (151734009)
                                                            Ilham Nurofik             (151734012)
                                                            Rahmat Hidayat          (151734018)
                                                            Rizki Azka Fadhilah   (151734025)

Kelompok                   : 1
Dosen Pengajar          : Ir. Kholiq Hernawan, M.T                                                         

 





PROGRAM STUDI DIV TEKNIK KONSERVASI ENERGI
JURUSAN TEKNIK KONVERSI ENERGI
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2018

AUDIT ENERGI MOTOR LISTRIK
1. TUJUAN
Setelah melakukan kegiatan praktikum mahasiswa diharapkan mampu :
1.      Melakukan audit energi pada motor listrik sebagai penggerak kompresor.
2.      Memahami pinsip dan mekanisme kerja motor sebagai penggerak kompresor.
3.      Mengetahui parameter-parameter yang berpengaruh pada motor sebagai penggerak kompresor.
4.      Menghitung rugi-rugi pada motor listrik sebagai penggerak kompresor.
5.      Menghitung efisiensi motor listrik sebagai penggerak kompresor.
6.      Membandingkan baseline hasil percobaan dengan standard.

2. TEORI
2.1. Penggunaan Alat Ukur Percobaan
A. Cara menggunakan PQ Analyzer
1.      Siapkan alat ukur PQ Analyzer dan cek kelengkapannya, seperti probe-probe dan SD Card untuk penyimpanan data,
2.      Pasangkan SD Card pada PQ Analyzer,
3.      Pasangkan probe kabel adaptor pada PQ Analyzer,
4.      Pasangkan probe tegangan (V1, V2, V3, dan N) pada PQ Analyzer,
5.      Pasangkan probe arus (A1, A2, A3) pada PQ Analyzer,
6.      Setelah kelengkapan PQ Analyzer terpasang, siapkan panel listrik yang akan di ukur,
7.      Pasangkan penjepit buaya pada panel sesuai fasanya, misalnya pada kabel fasa R dari PQ Analyzer maka pasangkan penjepit buaya ke panel fasa R,
8.      Pasangkan clamp arus pada kabel panel sesuai fasanya, misalnya pada kabel fasa R dari PQ Analyzer maka pasangkan clamp ke kabel panel fasa R,
9.      Hubungkan kabel adaptor PQ Analyzer ke sumber listrik,
10.  ON-kan PQ Analyzer,
11.  Tekan Set, (Shift dan    atau   )  untuk mengatur folder penyimpanan, nama file, sampling data, perbandingan pengukuran, tanggal, dan waktu,
12.  Setelah selesai setting profil data, tekan exit untuk menampilkan display utama PQ Analyzer,
13.  Apabila sudah siap melakukan pengukuran maka tekan Rec untuk melakukan perekaman data,
14.  Setelah data terkumpul sesuai yang kita setting selanjutnya tekan Rec untuk menghentikan perekaman,
15.  Pengukuran selesai, OFF kan PQ Analyzer,
16.  Lepaskan Clamp arus yang terpasang pada kabel panel,
17.  Lepaskan penjepit buaya yang terpasang pada panel,
18.  Lepaskan SD Card dari PQ Analyzer untuk dilakukan pemindahan data pada Laptop/komputer,
19.  Rapihkan PQ Analyzer dan kelengkapannya.
B. Cara menggunakan Clamp On 3 Fasa HiTester 3286 – 20 HIOKI
1. Siapkan alat ukur clamp on 3 fasa dan kelengkapannya,
2. Pasangkan probe tegangan pada clamp on 3 fasa sesuai urutas fasa R, S, dan T,
3. Siapkan panel yang akan diukur,
4. Pasangkan capit buaya pada panel sesuai dengan urutan fasanya,
5. Pasangkan Clamp pada kabel panel yang akan di ukur,
6. ON kan Clamp on 3 fasa,
7. Mulai pengukuran sesuai parameter yang akan dicari,
8. Catat hasil pengukuran,
9. Setelah selesai OFF kan Clamp On 3 fasa,
10. Lepaskan Clamp dari kabel panel,
11. Lepaskan Penjepit buaya dari panel,
12. Rapihkan alat-alat dan bereskan.





2.2. Klasifikasi Motor
Gambar 1.KlasifikasiJenisMotor Listrik
Gambar 1 menjelaskan tentang jenis dari motor listrik. Motor listrik yang banyak digunakan di industry yaitu motor induksi.
2.3. Motor induksi 3 fasa
Pada percobaan kompresor ini motor penggeraknya berupa motor induksi 3 fasa dimana motor listrik 3 fasa adalah motor yang bekerja dengan memanfaatkan perbedaan fasa pada sumber untuk menimbulkan gaya putar pada bagian rotornya. Perbedaan fasa pada motor 3 phase didapat langsung dari sumber. Hal tersebut yang menjadi pembeda antara motor 1 fasa dengan motor 3 fasa. Secara umum, motor 3 fasa memiliki dua bagian pokok, yakni stator dan rotor. Bagian tersebut dipisahkan oleh celah udara yang sempit atau yang biasa disebut dengan air gap. Jarak antara stator dan rotor yang terpisah oleh air gap sekitar 0,4 milimeter sampai 4 milimeter.

2.3.1. Prinsip Kerja Motor Listrik 3 Fasa

Prinsip kerja dari motor listrik 3 fasa ini sebenarnya sangat sederhana. Bila sumber tegangan 3 fase dialirkan pada kumparan stator, maka akan timbul medan putar dengan kecepatan tertentu. Besarnya kecepatan tersebut dapat diukur menggunakan sebuah rumus:
 
Dimana:  Ns = kecepatan putar stator
      f  = frekwensi sumber,
      P = kutub motor.
Perlu diketahui bahwa medan putar stator akan memotong batang konduktor yang ada pada rotor, sehingga pada batang konduktor dari rotor akan muncul GGL induksi. GGL akan menghasilkan arus (I) serta gaya (F) pada rotor. Agar GGL induksi timbul, diperlukan perbedaan antara kecepatan medan putar yang ada pada stator (ns) dengan kecepatan berputar yang ada pada rotor (nr).Perbedaan kecepatan antara stator dan rotor disebut slip (s) yang dapat dinyatakan dengan rumus:

                 Dimana :     S = slip
                                     Ns = Putaran stator
                                     Nr = Putaran rotor
Apabila nr = ns, maka GGL induksi tidak akan timbul, dan arus tidak akan mengalir pada batang konduktor (rotor), dengan demikian tidak dihasilkan kopel. Berdasarkan cara kerja tersebut, motor 3 fasa juga dapat disebut sebagai motor tak serempak atau motor asinkron.
Daya yang masuk pada motor 3 phasa dapat di rumuskan :
Pada percobaan daya input dapat dihitung apabila mengunakan metode pengukuran masing – masing phasa menggunakan tang ampere sebagai berikut :
2.3.2. Rugi - rugi  motor induksi
Pada sebuah motor induksi terdapat beberapa rugi - rugi yang ditimbulkan karena komponen -  komponen yang menyusun motor itu sendiri, seperti komponen tembag yang terdapat pada gulungan stator dan rotor. Komponen - komponen tersebut akan menimbulkan rugi - rugi seperti rugi - rugi tembaga , rugi - rugi pada inti besi , rugi - rugi mekanik seperti hambatan yang ditimbulkan karena gesekan dan angin, rugi- rugi dapat dihitung dengan rumus :

Dimana :          Pcu = Rugi rugi tembaga 
                        I = arus yang mengalir pada tembaga
                        R = Resistansi tembaga

Untuk rugi - rugi pada inti besi, rugi - rugi tersebut tidak terkait penuh dengan besar kecilnya beban yang diberikan pada motor tersebut. Faktor yang mempengaruhi besarnya rugi - rugi pada inti besi adalah hysterisis dan eddy current (arus eddy).

Sedangkan untuk rugi - rugi mekanik pada umumnya disebabkan faktor mekanikal seperti hambatan dan gesekan, seperti pada bearing, udara dll.

Rumus rugi -rugi base praktis
Rugi – Rugi           = [0.44 x L + 0.56 x L x (Pi/P)2]         (kW)

dimana :

L                = P (1 - h) = Besarnya rugi-rugi motor pada beban penuh     (kW)
P                = Rating daya masukan motor                                                (kW)
= Rating daya keluaran/h
h                   = Efisiensi motor pada beban penuh
Pi               = Daya masukan motor                                                           (kW)
0.44           = Faktor rugi – rugi besi
0.56= Faktor rugi –rugi tembaga


2.3.3. Efisiensi Motor Induksi
Efisiensi sebuah motor dinyatakan sebagai persentase perbandingan antra daya output yang dapat diberikan oleh sebuah motor untuk kerja (Pout) terhadap daya input (Pin) yang dibutuhkan oleh motor tersebut dimana dirumuskan sebagai berikut :
Dimana :      = efisiensi motor
                   Pin = daya masukan motor
                   Pout = daya keluaran motor
Ptrugi = daya rugi-rugi total pada motor        

Metode base praktis

2.3.4        Efisisensi motor terhadap load faktor
Terdapat hubungan yang jelas antara efisiensi motor dan beban. Pabrik motor membuat rancangan motor untuk beroperasi pada beban 50-100% dan akan paling efisien pada beban 75%. Tetapi, jika beban turun dibawah 50% efisiensi turun dengan cepat seperti ditunjukkan pada Gambar dibawah. Mengoperasikan motor dibawah laju beban 50% memiliki dampak pada faktor dayanya. Efisiensi motor yang tinggi dan faktor daya yang mendekati 1 sangat diinginkan untuk operasi yang efisien dan untuk menjaga biaya rendah untuk seluruh pabrik, berikut hubungan efisiensi dengan perubahan beban :


 

                                                                                                          










2.3.5.      Spesifikasi Motor Penggerak Kompresor
Daya (kW)
Jumlah Kutub
7.5 kW
4 POLE
Tegangan (v)
220
380
415
Frekuensi (Hz)
50
50
50
Putaran (RPM)
1440
1440
1440
Amp’s
26
15
15
Insulation
B
Amb Temp (®C)
40
Form
KK

Motor yang di gunakan pada percobaan memiliki sebagai berikut :
Daya Output Motor                  = 7.5 KW
Jumlah kutub                            = 4 Kutub
Frekuensi kerja motor               = 50 Hz
Putaran nominal motor             = 1440 rpm
Tegangan nominal motor          = 220 V atau 380 V,415 V sesuai hubungannya
Arus nominal motor                  = 26 A atau 15 A sesuai hubungannya
Isolasi yang digunakan type     = B
Ambiens temperatur pada        = 40oC
From                                         = KK

2.3.6.      Kelas Isolasi
·         Pengertian Insulation Class atau kelas isolasi
Keterangan mengenai Insulation Class atau kelas Isolasi ini menjelaskan mengenai seberapa baik kemampuan isolasi yang digunakan pada kawat gulungan (Winding) suatu elektro motor terhadap perubahan atau kenaikan suhu atau panas. Atau dengan kata lain, Insulation Class atau kelas isolasi adalah seberapa besar temperature atau suhu panas yang dapat di toleransi oleh bahan isolasi kawat gulungan elektro motor tersebut. Sehingga tetap dapat berfungsi sebagai bahan isolator (Isolasi) sebelum melebihi batas tembus tegangan dan Mengalami kegagalan isolasi atau terjadi kebocoran arus atau tegangan listrik.
·         Tabel dan penjelasan mengenai Insulation Class A,B,F,H pada elektro motor
Tabel Kelas Isolasi
·         Insulation Class standard NEMA
Insulation Class atau kelas isolasi adalah pengelompokan atau pembagian kelas untuk ketahanan kawat gulungan suatu electro motor pada suhu / temperatur tertentu
Standar NEMA (The National Electrical Manufacture Association ) membagi Insulation Class menjadi 4 yaitu:
A.    Insulation Class A
B.     Insulation Class B
C.     Insulation Class F
D.    Insulation Class H
Terdapat 3 hal yang harus kita perhatikan untuk menentukan Insulation Class.
1. Ambient Temperature
Seperti yang kita ketahui bahwa saat elektro motor belum dioperasikan, maka suhu motor tersebut adalah sama dengan suhu sekitarnya, atau yang biasa disebut sebagai Suhu Ruangan (Ambient Temperature). NEMA memberi nilai standar untuk suhu ruangan yang digunakan adalah 40 derajat Celcius.
2. Rise Temperature
Kemudian, saat elektro motor tersebut dioperasikan, maka akan terjadi peningkatan suhu pada kawat gulungan atau winding elektro motor tersebut, hal ini disebut dengan Peningkatan Suhu (Rise Temperature).
3. Hot spot
Selain itu suatu margin dari titik ditengah lilitan biasanya lebih tinggi yang disebut sebagai Hot Spot. Atau dengan kata lain Hot spot adalah titik terpanas yang terdapat dalam gulungan Elektro motor.

Insulation class atau Kelas isolasi ini, menjadi pedoman bagi kita untuk menentukan kelas mana yang akan kita gunakan, disesuaikan dengan suhu atau temperatur maksimal saat suatu elektro motor tersebut di operasikan.
Sebelum kita dapat menentukan antara Insulation Class A, B, F atau Insulation Class H, yang akan kita gunakan, terlebih dahulu kita harus mengetahui penjelasan mengenai masing-masing Insulation Class tersebut.

·         Insulation Class
Seperti yang kita ketahui, insulation Class atau kelas isolasi memiliki empat kelas yang umumnya digunakan, yaitu:
A.    Insulation Class A
B.     Insulation Class B
C.     Insulation Class F
D.    Insulation Class H

Sistem Isolasi dari Insulation Class ini diambil dari standar nilai NEMA (National Electrical Manufacturers Association).
Klasifikasi Insulation Class ini diambil dari seberapa besar batas maksimum temperatur atau suhu operasi yang masih ditoleransi atau diperbolehkan.
A.    Insulation Class A
Temperatur operasional maksimum yang diperbolehkan untuk Insulation Class-A, adalah:
105 derajat Celcius.
Peningkatan temperatur yang diperbolehkan saat beban puncak adalah:
60 derajat celcius. Pada service faktor 1.0
Peningkatan temperatur yang diperbolehkan saat beban puncak adalah:
70 derajat celcius. Pada service faktor 1.15
Hot spot atau titik suhu terpanas bertambah sebesar 5 derajat celcius

B.     Insulation Class B
Temperatur operasional maksimum yang diperbolehkan untuk Insulation Class-B, adalah:
130 derajat Celcius.
Peningkatan temperatur yang diperbolehkan saat beban puncak adalah:
80 derajat celcius.
Pada service faktor 1.0
Peningkatan temperatur yang diperbolehkan saat beban puncak adalah:
90 derajat celcius. Pada service faktor 1.15
Hot spot atau titik suhu terpanas bertambah sebesar 10 derajat celcius.
C.     Insulation Class F
Temperatur operasional maksimum yang diperbolehkan untuk Insulation Class-F, adalah:
155 derajat Celcius.
Peningkatan temperatur yang diperbolehkan saat beban puncak adalah:
105 derajat celcius. Pada service faktor 1.0
Peningkatan temperatur yang diperbolehkan saat beban puncak adalah:
115 derajat celcius. Pada service faktor 1.15
Hot spot atau titik suhu terpanas bertambah sebesar 10 derajat celcius.
D.    Insulation Class H
Temperatur operasional maksimum yang diperbolehkan untuk Insulation Class-H, adalah:  180 derajat Celcius.
Peningkatan temperatur yang diperbolehkan saat beban puncak adalah:
125 derajat celcius. Pada service faktor 1.0
Hot spot atau titik suhu terpanas bertambah sebesar 15 derajat celcius.
Penjelasan mengenai perhitungan suhu maksimum operasi yang dapat ditoleransi, sesuai dengan Insulation Class masing-masing
A.    Insulation Class A
Temperature operasional maksimum yang diperbolehkan didapat dari penjumlahan nilai suhu ambient (40 derajat celcius) ditambah dengan rise temperature atau peningkatan temperatur yang diperbolehkan ditambah lagi dengan titik terpanas atau Hot spot.
Sebagai contoh, perhitungan suhu maksimum untuk Insulation Class A:
Temperatur maksimum yang diperbolehkan adalah 105 derajat celcius.
Nilai ini didapat dari:
Nilai suhu ambient (40 derajat celcius) ditambah dengan rise temperature atau peningkatan temperatur yang diperbolehkan (60 derajat celcius) ditambah lagi dengan titik terpanas atau Hot spot (5 derajat celcius)
Atau sama dengan:
40 derajat celcius + 60 derajat celcius + 5 derajat celcius = 105 derajat celcius

B.     Insulation Class B
Temperature operasional maksimum yang diperbolehkan didapat dari penjumlahan nilai suhu ambient (40 derajat celcius) ditambah dengan rise temperature atau peningkatan temperatur yang diperbolehkan ditambah lagi dengan titik terpanas atau Hot spot.
Sebagai contoh, perhitungan suhu maksimum untuk Insulation Class B:
Temperatur maksimum yang diperbolehkan adalah 130 derajat celcius.
Nilai ini didapat dari:
nilai suhu ambient (40 derajat celcius) ditambah dengan rise temperature atau peningkatan temperatur yang diperbolehkan (80 derajat celcius) ditambah lagi dengan titik terpanas atau Hot spot (10 derajat celcius)
Atau sama dengan:
40 derajat celcius+ 80 derajat celcius + 10 derajat celcius = 130 derajat celcius.

C.     Insulation Class F
Temperature operasional maksimum yang diperbolehkan didapat dari penjumlahan nilai suhu ambient (40 derajat celcius) ditambah dengan rise temperature atau peningkatan temperatur yang diperbolehkan ditambah lagi dengan titik terpanas atau Hot spot.
Sebagai contoh, perhitungan suhu maksimum untuk Insulation Class F:
Temperatur maksimum yang diperbolehkan adalah 155 derajat celcius.
Nilai ini didapat dari:
nilai suhu ambient (40 derajat celcius) ditambah dengan rise temperature atau peningkatan temperatur yang diperbolehkan (105 derajat celcius) ditambah lagi dengan titik terpanas atau Hot spot (10 derajat celcius)
Atau sama dengan:
40 derajat celcius+ 105 derajat celcius + 10 derajat celcius = 155 derajat celcius.
D.    Insulation Class H
Temperature operasional maksimum yang diperbolehkan didapat dari penjumlahan nilai suhu ambient (40 derajat celcius) ditambah dengan rise temperature atau peningkatan temperatur yang diperbolehkan ditambah lagi dengan titik terpanas atau Hot spot.
Sebagai contoh, perhitungan suhu maksimum untuk Insulation Class F:
Temperatur maksimum yang diperbolehkan adalah 180 derajat celcius.


Nilai ini didapat dari:
Nilai suhu ambient (40 derajat celcius) ditambah dengan rise temperature atau peningkatan temperatur yang diperbolehkan (125 derajat celcius) ditambah lagi dengan titik terpanas atau Hot spot (15 derajat celcius)
Atau sama dengan:
40 derajat celcius+ 125 derajat celcius + 15 derajat celcius = 180 derajat celcius.
Sebaiknya suhu pengoperasian elekto motor tidak melebihi batas maksimum suhu yang  derajat dari batasan suhu maksimum yang diperbolehkan, akan menurunkan life time elektro motor tersebut. Hal ini merupakan hal yang sangat penting untuk dihindari karena Insulation Class berhubungan lengsung terhadap Life time Elektromotor.
Sebagai contoh:
Jika elektro motor beroperasi pada suhu 180 derajat celcius, maka:
Jika menggunakan Insulation Class A, life time elektro motor tersebut hanya sekitar 300 jam operasi.
Jika menggunakan Insulation Class B, life time elektro motor tersebut hanya sekitar 1.800 jam operasi.
Jika menggunakan Insulation Class F, life time elektro motor tersebut sekitar 8.500 jam operasi.
Jika menggunakan Insulation Class H, life time elektro motor tersebut dapat mencapai 10.000 jam operasi.

Catatan:
Insulation Class-B
Pada umumnya, Insulation Class B digunakan untuk elektro motor produksi Amerika (US) dengan menggunakan frekwensi 60 Hertz
Insulation Class-F
Pada umumnya, Insulation Class F digunakan untuk elektro motor produksi internasional dengan menggunakan frekwensi 50 Hertz.



3.      GAMBAR RANGKAIAN
Saat Praktikum
Instalasi Power Supply ke Motor Induksi

RANGKAIAN KONTROL                                    RANGKAIAN DAYA
 




                                                            CB                              
OL 1
           













 


Tambahan gambar motor



TOLR

`

R

S

T

N

T

S

R

U



U

V

W


 DOL






TOLR : Thermal overload relay


4. ALAT DAN BAHAN
1. Kompresor
2. Clamp On 3 fasa
3. PQ Analyzer
4. Alat Pengaman Diri (APD)

5.      PROSEDUR PERCOBAAN
A. Pengukuran Motor Penggerak Kompresor
1.      Siapkan peralatan yang diperlukan.
2.      Pastikan sumber tegangan pada posisi OFF. (saklar off pada panel utama kompresor)
3.      Buka box panel kompresor.
4.      Cek penghantar tiap-tiap fasa. (apakah bisa dipasang clamp on atau tidak dan cek urutan fasa sudah benar atau tidak)
5.      Pasang alat ukur clamp on pada instalasi listrik yang masuk ke motor
6.      ON kan sumber tegangan pada panel utama kompresor. Jangan terlalu dekat dengan belt kompresor pada saat pengONan.
7.      Atur tekanan pada kompresor mulai dari 1-5 bar dengan kenaikan sebesar 1 bar.
8.      Buat tekanan kompresor konstan pada saat pengukuran dengan mengatur bukaan katup.
9.      Pada tekanan kompresor konstan (missal 1 bar/2 bar/ 3 bar / 4 bar dan 5 bar) Ukur parameter masuk pada motor. Dan ukur parameter pada kompresor.
10.  Parameter yang diukur pada masukan motor yaitu :nilai tegangan, arus, cos φ, daya aktif (Kw) dan daya semu (KVA). Besaran besaran ini diukur per fasa (R/S/T)
11.  Parameter yang di ukur pada kompresor adalah suhu masuk(T1), tekanan udara masuk (P1) kompresor, suhu keluar kompresor (T2) dan tekanan keluaran kompresor (P2)
12.  Lakukan langkah 10 dan 11 untuk tekanan kompresor yang berbeda (2 bar, 3 bar, 4 bar, 5 bar)
13.  Rekam hasil pengukuran pada PQ anayzer
14.  OFF kan kompresor dengan meng OFFkan saklar pada panel utama kompresor
15.  Buang udara bertekanan pada kompresor.
16.  Bereskan kembali peralatan


Tabel Data Pengamatan
Waktu
Vm (volt)
Im (ampere)
Cos phi
Pm (kW)
P (bar)
R
S
T
3Fasa
R
S
T
3Fasa
R
S
T
3Fasa
R
S
T
3Fasa

















4



















































5



















































6



















































7




































6.      TUGAS
1.      Buat tabel dan grafik karakteristik parameter (V,I,cos phi, P) yang terukur terhadap pembebanan
2.      Berdasarkan data, hitunglah :
a.       Rugi-rugi motor
b.      Pout motor induksi
c.       η motor induksi
d.      konsumsi energi per tahun (dalam kWh dan Rupiah) dengan asumsi penggunaan per hari 10 jam, 7 hari dalam seminggu, 4 minggu dalam sebulan, dan 12 bulan dalam satu tahun dengan biaya Rp 1.380/kWh
3.      Buat grafik rugi-rugi, konsumsi energi dan efisiensi (η) motor terhadap factor pembebanan (tekanan)















LAMPIRAN

STANDAR PARAMETER KELISTRIKAN

 Kualitas daya
Standar
Batas nilai
Fluktuasi daya aktif listrik
SNI 57-2-1 2001
10%
Fluktuasi daya reaktif listrik
SNI 57-2-1 2001
10%
Fluktuasi daya semu listrik
SNI 57-2-1 2001
10%
Faktor daya
Permen ESDM No. 30 th 2012
<0,85
Ketidakseimbangan arus
ANSI-C84.1-1995
5%
Ketidakseimbangan tegangan
EASA, hal. 6-11, 2000
3%
THD – I
IEEE Std 519
10%
THD – I
SNI 57-2-1 2001
10%
THD – V
IEEE Std 519-1992
5%
THD – V
SNI 57-2-1 2001
5%
Frekuensi
SNI 04-1992-2002

Tegangan

10%


Relatif







Comments